Pagi ini saya mendengar berita tentang banjir barang impor. Entah kenapa, pikiran saya ini nakal sekali. Suka menyambungkan hal yang tidak jelas sama sekali, dan jahu dari kata nyambung. Dari berita itu saya teringat akan perdagangan bebas. Dari perdagangan bebas saya ingat dunia kapitalis. Ingat dunia kapitalis, ingat individualis. Dan dari situ, saya teringat kejadian beberapa waktu yang lalu. Budaya antri !!
Beberapa waktu lalu, saya hendak membeli tiket kereta api pulang ke Jogja. Di saat mengantri bersama rekan hidup saya, tiba-tiba, blung..seorang bapak 30 tahunan nyelonong masuk antrian di depan. Grrrr..Saya tidak bisa menahan untuk mengomel tidak jelas. Dengan suara pelan tentu saja mengingat badan bapak itu dan pakaian premannya ^ ^.
Saya lalu berbincang dengan rekan hidup saya tadi tentang kejadian-kejadian seperti ini. Membuat kira menyadari bahwa kejadian seperti ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali. Tapi sering. Sangat sering malah.
Di jalan, beberapa kali pemakai jalan menyerobot antrian di lampu merah tanpa mempedulikan pengendara lain dan marka jalan. Di antrian keluar parkir semua berlomba menjadi yang pertama keluar. Di halte transjakarta, semua berlomba menjadi yang pertama masuk. Pada awalnya saya sangat terganggu dengan hal ini. Tapi lama-kelamaan, saya pikir saya yang terlalu naif dan berburuk sangka.
Di tengah dunia dengan persaingan global seperti ini, sudah seharusnyalah semangat kompetisi harus selalu digalakkan. Dan karena kita berada di dunia yang penuh dengan sifat ke-aku-an, tentu semangat kompetisinya adalah kompetisi tidak sehat. Saling sikut, saling tendang, saling injak, asal kita berhasil, mungkin adalah sifat yang patut kita ajarkan kepada anak-anak kita.
Sayangnya, sifat ini kurang saya miliki. Saya jadi khawatir saya mungkin akan kurang sukses di masa depan. Tanpa sifat ini, bagaimana saya bisa berhasil? Bagaimana saya bisa dapat uang yang banyak, bagaimana saya bisa naik jabatan, bagaimana saya bisa dipuji atasan? Namun kemudian saya tersenyum mengingat kejadian kejadian tadi.
Ketika saya disalip dengan hebatnya di jalan, saya mengumpat. Ketika mobil berjalan dengan cepatnya di jalan berlumpur dan mencipratkannya, saya mengeluarkan sumpah serapah. Ketika ada yang menyerobot antrian saya mendoakan yang buruk kepadanya. Dan tentu saja membicarakan tentang sifat orang itu kepada orang di dekat saya, betapa norak orang tersebut dan berharap orang di dekat saya menyadari betapa hebatnya saya.
Ha ha ha, jadi at least kalau saya kurang ampuh dalam budaya serobot, saya masih punya budaya main belakang. Budaya yang juga sangat penting dalam menghadapi jaman individualis ini. Dan seperti kata Dewi – Dewi, main belakang itu berbahaya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar