Minggu, 27 November 2011

Tidak Mau Bayar Pajak…


Kadang, bagi saya, melihat print out penghasilan tahunan membuat jengkel. Bagaimana tidak, karena dari situlah saya sadar berapa uang yang telah saya keluarkan untuk membayar pajak. Masih di bawah sepuluh juta tentu saja, but well, tetap saja itu jumlah yang sangat besar.
Jengkel karena terkadang saya merasa belum mendapat hak saya sebagai warga negara. Jalan rusak dimana-mana, transportasi masal tidak nyaman, kemacetan, dan banyak hal lainnya. Saya merasa, dengan uang yang saya keluarkan itu, seharusnya saya bisa mendapat lebih.
Jengkel yang kedua, karena saya harus membayar ke departemen, yang karyawannya bergaji lebih besar dari saya. Hal ini kadang mengusik ego saya yang (sangat) tinggi. Bagaimana bisa, saya bisa memberi ke orang yang punya lebih banyak dari saya. Kenapa tidak mereka saja yang membayar pajak saya. Toh mereka masih lebih kaya dari saya.
Ketiga, karena meski sudah mendapat gaji yang sebesar itu, mereka masih saja korupsi. Pajak yang saya setorkan dengan tetesan darah itu, sukses bertransformasi menjadi batu bata di rumah mewah mereka. Atau menjadi roda mobil royal saloon mereka. Atau bisa jadi sudah menjadi koper (bahkan) istri mereka untuk berwisata ke luar negeri.
Saya pikir, hukuman untuk para koruptor itu haruslah adil dalam artian kuantitatif. Misalkan pencuri ayam seharga 50 ribu dihukum dua bulan penjara, maka orang yang melakukan korupsi 10 milyar misalnya, sudah selayaknya dihukum penjara 33 ribu tahun.
Atau dengan asumsi UMR kita yang 1,2 juta. Maka dapatlah kita andaikan uang 10 Milyar tersebut akan mengidupi delapan ribu orang. Jadi, kalau memang boleh kita menghukum mati, koruptor itu harus dihukum mati delapan ribu kali.
Terkadang saya merasa, Rumah Zakat atau Dompet Dhuafa, jauh lebih baik dalam me-manage uang-uang rakyat seperti ini. Minimal, banyak dari mereka yang lebih ke arah volunteer daripada digaji mahal, Juga, saya belum pernah mendengar penyimpangan uang oleh mereka.
Lalu saya iseng berpikir, berapa uang yang sudah saya beri kepada badan-badan amal itu? Sedikit sekali !!! Jadi, meski argumen dan sumpah serapah yang saya tulis diatas bisa saja benar adanya, saya menemukan bahwa alasan paling mendasar dari keengganan saya membayar pajak adalah karena saya pelit !!!

Jumat, 25 November 2011

Bersama...


Engkaulah api…
Bergejolak,
menyala menggapai-gapai langit.

Disini air,
Mengalir,
buta, tanpa tahu tujuan.
Maka, berilah aku harapan dan impian..


Engkaulah angin..
Bergerak,
berhembus cepat tanpa jejak.

Disini batu,
Tak bergerak..
tariklah aku untuk ikut denganmu..

Namun jika engkau api yang menyala,
Lelah menggapai langit.
Datanglah untuk berbagi sejuk.

Jika engkau wahai angin yang berhembus
Lelah berlari..
Kemarilah untuk bersandar…

Engkaulah api, engkaulah angin..
Tapi kita Satu
Dan aku bersumpah untuk selalu bersamamu…

Kompetisi..


Pagi ini saya mendengar berita tentang banjir barang impor. Entah kenapa, pikiran saya ini nakal sekali. Suka menyambungkan hal yang tidak jelas sama sekali, dan jahu dari kata nyambung. Dari berita itu saya teringat akan perdagangan bebas. Dari perdagangan bebas saya ingat dunia kapitalis. Ingat dunia kapitalis, ingat individualis. Dan dari situ, saya teringat kejadian beberapa waktu yang lalu. Budaya antri !!
Beberapa waktu lalu, saya hendak membeli tiket kereta api pulang ke Jogja. Di saat mengantri bersama rekan hidup saya, tiba-tiba, blung..seorang bapak 30 tahunan nyelonong masuk antrian di depan. Grrrr..Saya tidak bisa menahan untuk mengomel tidak jelas. Dengan suara pelan tentu saja mengingat badan bapak itu dan pakaian premannya ^ ^.
Saya lalu berbincang dengan rekan hidup saya tadi tentang kejadian-kejadian seperti ini. Membuat kira menyadari bahwa kejadian seperti ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali. Tapi sering. Sangat sering malah.
Di jalan, beberapa kali pemakai jalan menyerobot antrian di lampu merah tanpa mempedulikan pengendara lain dan marka jalan. Di antrian keluar parkir semua berlomba menjadi yang pertama keluar. Di halte transjakarta, semua berlomba menjadi yang pertama masuk. Pada awalnya saya sangat terganggu dengan hal ini. Tapi lama-kelamaan, saya pikir saya yang terlalu naif dan berburuk sangka.
Di tengah dunia dengan persaingan global seperti ini, sudah seharusnyalah semangat kompetisi harus selalu digalakkan. Dan karena kita berada di dunia yang penuh dengan sifat ke-aku-an, tentu semangat kompetisinya adalah kompetisi tidak sehat. Saling sikut, saling tendang, saling injak, asal kita berhasil, mungkin adalah sifat yang patut kita ajarkan kepada anak-anak kita.
Sayangnya, sifat ini kurang saya miliki. Saya jadi khawatir saya mungkin akan kurang sukses di masa depan. Tanpa sifat ini, bagaimana saya bisa berhasil? Bagaimana saya bisa dapat uang yang banyak, bagaimana saya bisa naik jabatan, bagaimana saya bisa dipuji atasan? Namun kemudian saya tersenyum mengingat kejadian kejadian tadi.
Ketika saya disalip dengan hebatnya di jalan, saya mengumpat. Ketika mobil berjalan dengan cepatnya di jalan berlumpur dan mencipratkannya, saya mengeluarkan sumpah serapah. Ketika ada yang menyerobot antrian saya mendoakan yang buruk kepadanya. Dan tentu saja membicarakan tentang sifat orang itu kepada orang di dekat saya, betapa norak orang tersebut dan berharap orang di dekat saya menyadari betapa hebatnya saya.
Ha ha ha, jadi at least kalau saya kurang ampuh dalam budaya serobot, saya masih punya budaya main belakang. Budaya yang juga sangat penting dalam menghadapi jaman individualis ini. Dan seperti kata Dewi – Dewi, main belakang itu berbahaya…

Jumat, 04 November 2011

Senyap


Terhenti aku di deretan tombol persegi ini.
Mencoba menemukan kalimat indah pertama untukmu..
Lalu muncullah bayangmu, Aku tak mampu..

Aku tajamkan mata..
Memaksa huruf-huruf ini teruntai..
Mencari, bahkan untuk kata pertama..
Gagap..terbata-bata…

Lalu aku sadar aku tak akan mampu..
Jajaran kata tak akan sanggup memberi ruang keindahanmu..
Kamulah alunan harmoni
Yang disenandungkan hati untuk pelangi, bintang, bidadari..
Bersemayam di sana, tanpa kata-kata…

Tak terkalahkan


Sayangku..
Aku tahu kamu lelah..
Kau telah melakukan semua..
Memendam, mengubur..
Menggali dan membuka pintu hati selebar yang kau bisa,.
Lalu menutupnya agar tawamu kembali ada
Untukku..

Tapi dia selalu membuka luka kembali
Mencoba mengambil semua cahaya hatimu..
Mencoba mengalahkanmu dengan semua cara yang dia bisa,,

Kuatlah sayang..
Karena kau jauh lebih baik darinya…
Tetesan keringatmu jauh lebih baik dari racauan mulutnya..
Kemurahan hatimu jauh lebih baik dari piciknya..

Besarkan hati..
Seperti Tuhan yang Maha Besar..
Dan tak ada yang Dia beri untukmu, kecuali yang terbaik..