Kadang, bagi saya, melihat print out penghasilan tahunan membuat jengkel. Bagaimana tidak, karena dari situlah saya sadar berapa uang yang telah saya keluarkan untuk membayar pajak. Masih di bawah sepuluh juta tentu saja, but well, tetap saja itu jumlah yang sangat besar.
Jengkel karena terkadang saya merasa belum mendapat hak saya sebagai warga negara. Jalan rusak dimana-mana, transportasi masal tidak nyaman, kemacetan, dan banyak hal lainnya. Saya merasa, dengan uang yang saya keluarkan itu, seharusnya saya bisa mendapat lebih.
Jengkel yang kedua, karena saya harus membayar ke departemen, yang karyawannya bergaji lebih besar dari saya. Hal ini kadang mengusik ego saya yang (sangat) tinggi. Bagaimana bisa, saya bisa memberi ke orang yang punya lebih banyak dari saya. Kenapa tidak mereka saja yang membayar pajak saya. Toh mereka masih lebih kaya dari saya.
Ketiga, karena meski sudah mendapat gaji yang sebesar itu, mereka masih saja korupsi. Pajak yang saya setorkan dengan tetesan darah itu, sukses bertransformasi menjadi batu bata di rumah mewah mereka. Atau menjadi roda mobil royal saloon mereka. Atau bisa jadi sudah menjadi koper (bahkan) istri mereka untuk berwisata ke luar negeri.
Saya pikir, hukuman untuk para koruptor itu haruslah adil dalam artian kuantitatif. Misalkan pencuri ayam seharga 50 ribu dihukum dua bulan penjara, maka orang yang melakukan korupsi 10 milyar misalnya, sudah selayaknya dihukum penjara 33 ribu tahun.
Atau dengan asumsi UMR kita yang 1,2 juta. Maka dapatlah kita andaikan uang 10 Milyar tersebut akan mengidupi delapan ribu orang. Jadi, kalau memang boleh kita menghukum mati, koruptor itu harus dihukum mati delapan ribu kali.
Terkadang saya merasa, Rumah Zakat atau Dompet Dhuafa, jauh lebih baik dalam me-manage uang-uang rakyat seperti ini. Minimal, banyak dari mereka yang lebih ke arah volunteer daripada digaji mahal, Juga, saya belum pernah mendengar penyimpangan uang oleh mereka.
Lalu saya iseng berpikir, berapa uang yang sudah saya beri kepada badan-badan amal itu? Sedikit sekali !!! Jadi, meski argumen dan sumpah serapah yang saya tulis diatas bisa saja benar adanya, saya menemukan bahwa alasan paling mendasar dari keengganan saya membayar pajak adalah karena saya pelit !!!